Gambar di bawah adalah potongan kutipan Prof. Paul de Blot, Sj. yang dimuat di halaman sampul buku “Surat Rindu untuk Ayah di Pulau Buru”:

Tulisan lengkap Paul de Blot atas buku ini bisa dilihat di halaman epilog buku ini. Atau, anda bisa melihatnya disini (belum ada link)
banyak orang membicarakan buru dengan segala isi tragedinya yang kadang membuat bayak oarang mencaci tapi tak sedikit manusia yang teraniyaya oleh karna cacian itu dan aku yang lahir, tumbuh, besar di pulau buru yang dinodai dengan darah para tapol. merasa bangga pernah berada dalam hangatnya kedamaiyan dalam dekapan hati yang terluka namun penuh kasih, mari bersamaku melihat kembali apa yang mereka tinggalkan yang lambat laun mulai rapuh dimakan kebencian dan ketidak pedulian bangsa ini.
banyak orang membicarakan buru dengan segala isi tragedinya yang kadang membuat bayak oarang mencaci tapi tak sedikit manusia yang teraniyaya oleh karna cacian itu dan aku yang lahir, tumbuh, besar di pulau buru yang dinodai dengan darah para tapol yang mengalir terbantai tanpa dosa. merasa bangga pernah berada dalam hangatnya kedamaiyan dalam dekapan hati yang terluka namun penuh kasih, mari bersamaku melihat kembali apa yang mereka tinggalkan yang lambat laun mulai rapuh dimakan kebencian dan ketidak pedulian bangsa ini.