Di bawah adalah image contoh surat yang ditulis Rani, tokoh dalam buku ini, untuk ayahnya yang di dipenjara di Pulau Buru. Tertera jelas di alamat terkirim serta pengirimnya. Surat ini hanya berisi tentang khabar dan kesehatan, tetapi harus melewati sensor ketat aparat keamanan. 
Suatu ketika, Rani bertanya, “Apakah pelajaran bahasa Indonesia dalam hal surat-menyurat tidak berlaku untuk kami, anak-anak dari orang yang dituduh PKI?”
Pertanyaan itu muncul karena pelajaran yang didapat Rani mengenai surat-menyurat diperbolehkan menggunakan kertas apapaun, termasuk menyobek bagian dalam sebuah buku tulis. Selain itu, harus menggunakan amplop untuk membungkus surat itu.
Tapi dalam kenyataan, untuk mengirim surat untuk ayahnya saja, Rani harus menulisnya menggunakan Kartu Pos, tidak boleh yang lain, tidak boleh dengan amplop, dan itu pun harus melalui sensor ketat aparat keamanan.
Bagaimana berkomentar… kecuali merenungi kejadian ini, merasakan asa yang hadir dari Rani, dan ribuan Rani yang lain yang tak mengerti tentang salah dan benar orang tuanya. Namun, kerinduan tak kenal batas usia, tak mengenal semuanya. Kerinduan adalah kerinduan dan kekhawatiran yang menyisakan sejuta pertanyaan.
rasanya udah terlalu sering negri ini mencap orang begitu mudahnya. PKI lah, sesatlah. Coba sesekali kita instospeksi diri! Orang tuanya boleh saja PKI tapi kita juga tidak perlu mencap anaknya PKI juga.
Salam!